Takut pada kegagalan adalah sumber kegagalan.

Judul:MEMBANGKITKAN DAN MEMBINA PROSES KREATIF SISWA
Pengarang:Wiwin Erni Siti Nurlina
Subjek:

MEMBANGKITKAN DAN MEMBINA PROSES KREATIF SISWA
MELALUI BENGKEL BAHASA
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Adanya suatu harapan bahwa suatu saat siswa (dalam hal ini khususnya siswa SLTA) akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang cerdas. Salah satu wujud kecerdasan, siswa dapat mengungkapkan gagasannya secara nalar dan sistematis berdasarkan kaidah bahasa Indonesia. Di samping itu, kita ketahui bahwa pengajaran bahasa Indonesia bagi siswa, selain memuat pengetahuan bahasa, juga bertalian dengan praktik tulis-menulis, seperti (1) membuat karangan, (2) menyusun sinopsis, (3) menyusun laporan, yang juga bertalian dengan kegiatan KIR di sekolah. Di sisi lain, adanya kenyataan bahwa banyak instansi yang menyelenggarakan lomba penulisan bagi siswa. Hal-hal itulah yang menuntut siswa harus melakukan kegiatan tulis-menulis, terutama menyusun karya tulis.
               Dari pengamatan yang dilakukan, kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan siswa menyusun karya tulis dengan bahasa Indonesia, masih jauh dari yang diharapkan. Hal itu 
terlihat pada (a) masih kentalnya pemakaian ragam lisan, (b) kurang runtutnya engembangan ide, (c) kurang bernalarnya cara mempertautkan antarunsur gagasan, dan (d) kurang cermatnya pemakaian kaidah kebahasaan yang berhubungan dengan sistem tata tulis.Sehubungan dengan hal di atas, untuk mencapai harapan dan mengatasi kondisi itu, siswa harus dibangkitkan untuk memiliki sikap positif dan pengetahuan yang memadai mengenai bahasa Indonesia dan harus berlatih terus-menerus sehingga memiliki tingkat keterampilan tertentu. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan dan pembimbingan secara intensif. Atas alasan itulah, Balai Bahasa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Bengkel Bahasa, yang berfokus pada pembinaan penulisan karya tulis.
 
1.2 Dasar Pemikiran
               Kegiatan Bengkel Bahasa merupakan kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas tulis-menulis. Aktivitas “tulis-menulis” dalam KBBI (2001:1079) memiliki pengertian ‘perihal menulis (mengarang dsb). Menurut Salam (2005:6), aktivitas menulis dan/atau mencatat itu sebagai suatu proses belajar dan berpikir. Oleh karena itu, perlu diadakan penekanan bahwa kegiatan tulis-menulis pada Bengkel Bahasa ini berkaitan dengan proses belajar dan berpikir. Di samping itu, adanya pemikiran bahwa salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan agar pendidikan mewujudkan hasil yang bermutu ialah aspek standar kompetensi. Di dalam buku Kurikulum 2004: Standar Kompetensi, Mata Pelajaran Bahasa Indonesia (2003:1) dijelaskan bahwa, pemelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemapuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tertulis serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia Indonesia. Dengan pemikiran di atas, kegiatan yang dilakukan dalam Bengkel Bahasa ini dikemas sebagai wadah untuk berproses, belajar, dan berpikir.  Dasar pemikiran lain yang berkaitan dengan pelaksanaan Bengkel Bahasa ialah landasan kerja. Disebutkan pada Laporan Pelaksanaan Bengkel Bahasa Indonesia (2005:1) bahwa landasan kerja  pelaksanaan kegiatan yaitu (a) Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 022/0/1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Bahasa Yogyakarta dan (2) Keputusan Menteri Pendidikan nasional RI Nomor 036/0/2002 tentang Rincian Tugas balai Bahasa Yogyakarta.
 
1.3 TujuanKegiatan
               Pada dasarnya, kegiatan ini bertujuan (a) memotivasi siswa agar kreatif serta terampil membuat karya tulis, (b) meningkatkan kemampuan siswa dalam mengaktualisasikan fenomena yang berkembang di masyarakan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang cermat, dan (c) memotivasi kesertaan siswa dalam kegiatan lomba karya tulis yang semakin sering diadakan.
 
2. Proses Penyelenggaraan
               Kegiatan Bengkel Bahasa ini dilakukan dalam sepuluh kali pertemuan, setiap hari Minggu. Apabila diselingi dengan waktu libur, pelaksanaannya kira-kira tiga bulan.  Dalam proses penyelenggaraan kegiatan ini ada tiga tahapan, yaitu (a) pembekalan,  (b) pembangkitan dan motivasi, dan (c) proses kreatif penyusunan karya.
 
2.1 Pembekalan
Pemberian wawasan pada siswa tentang kepenulisan dan wawasan penggunaan bahasa Indonesia dilakukan pada awal-awal pertemuan. Pembekalan dimaksudkan sebagai pengenalan prinsip-prinsip dasar, seperti yang diuraikan oleh Setiyanto dan Sri Nardiati (2004: 4).
               Pengenalan prinsip-prinsip dasar mencakup tiga permasalahan utama, yaitu
(a) penggalian, perumusan, dan penjabaran tema;
(b) teknik pengumpulan data;
)c) wawasan kebahasan demi keakuratan karya tulis sebagai 
suatu laporan.
 
 
2.2 Pembangkitan
Maksud pembangkitan di sini ialah penggalian proses kreatif pada diri siswa.  embangkitan ini dilakukan dengan cara memberi motivasi. Dalam pemotivasian siswa diberi pengertian tentang peningkatan dan pendisiplinan budaya tulis. Seperti yang dikatakan Salam (2005:8) bahwa praktik budaya lisan dan budaya tulis merupakan dua praktik yang bebeda dan berimplikasi luas dalam kehidupan bermasyarakat. Praktik budaya lisan walaupun telah ikut berperan dalam proses-proses transformasi, tetapi dianggap tidak cukup memadai dalam mengembangkan suatu kebudayaan yang modern dan rasional sehingga banyak praktik kehidupan dapat diacukan berdasarkan fakta-fakta yang empirik yang dapat diuji berdasarkan hukum-hukum perubahan sosial yang niscaya. Persoalan tersebut akan berbeda jika praktik budaya tulis dapat dimaksimalkan dan diberdayakan manfaatnya.
                               
2.3 Proses Kreatif dan Penyusunan Karya
               Dalam kegiatan untuk membagkitkan proses kreatif dan membina siswa untuk menyusun karya tulis ada beberapa  tahap yang dilakukan . Berikut ini adalah pokok-pokok tahapan pelatihan dan pembimbingan, yang akhirnya bermuara dalam penyusunan sebuah karya tulis.
(a) Pelatihan dan Pembibingan Tahap 1
               Dalam tahap ini siswa diberi pelatihan dan pembimbingan yang berupa strategi untuk            
a. membuat pokok-pokok pembicaraan;
b. menata atau mengurutkan pokok-pokok;
c. membuat kerangka.
Pada tahapan ini tutor membantu mengidentifikasi dan mengkritisi permasalahan.
 
(b) Pelatihan dan Pembibingan Tahap 2
               Dalam tahap ini siswa diberi pelatihan dan pembimbingan yang berupa strategi untuk            
a. penguraian pokok-pokok pembicaraan (pengalimatan); b. penjelasan pokok-pokok pembicaraan. Pada tahapan ini tutor membangkitkan dan memotivasi untuk (a) mencermati dan melatih agar siswa dapat mengungkapkan  dan melengkapi ide dalam pikiran . Selain itu, tutor juga memberikan bimbingan penataan nalar kebahasaan
 
(c) Pelatihan dan Pembibingan Tahap 3
               Dalam tahap ini siswa diberi pelatihan dan pembimbingan yang berupa strategi untuk
               a. penataan paragraf yang koheren;
               b. penyuntingan kebahasan (istilah, bentuk kata, terjemahan, dan lain-lain).
               Pada tahapan ini tutor
Catatan: pada setiap tahapan para tutor melakukan pengontrolan kualitas.
 
3. Hasil
               Bengkel Bahasa di Yogyakarta sudah dilaksanakan dua kali (tahun 2004, 2005). Hasil pembinaan dari Bengkel Bahasa dapat dipilah menjadi dua, yaitu (a) hasil karya tulis siswa dan (b) hasil peningkatan SDM.
 
3.1 Hasil Karya Tulis Siswa
               Pelaksanaan Bengkel Bahasa di Yogyakarta telah menghasilkan dua antologi, yang memuat berbagai bidang. 
Antologi tahun 2004 berjudul …, yang memuat …judul; antologi tahun 2005 berjudul Buah Pena Anak Yogya, yang memuat  39 judul (seperti yang terlihat pada Lampiran).
 
3.2 Hasil Peningkatan SDM
               Siswa yang telah mengikuti pembinaan dan pelatihan di Bengkel Bahasa banyak yang mengikuti berbagai lomba penulisan ilmiah. Beberapa dari mereka memperoleh kejuaraan.
               
4. Tindak Lanjut
               Pembinaan dari Bengkel Bahasa tidak berhenti pada selesainya pelaksanaan kegiatan (seperti pada jadwal pelaksanaan), tetapi dapat dilanjutkan dalam sebuah wadah yang disebut “sanggar bahasa”. Sanggar tersebut bernama FP2Y (Forum Pelajar Penulis Yogyakarta). Sejak berdiri FP2Y telah menghasilkan buletin yang bernama TETRA, sudah tiga nomor.
 
5. Kendala yang Dihadapi
Kendala yang dihadapai dalam melaksanakan Bengkel Bahasa ialah a. waktu pelaksanaan setiap hari Minggu, pencerapan kurang focus karena berselang enam hari;
b. peserta memiliki kemampuan yang heterogen .
 
5. Simpulan
               Kegiatan Bengkel Bahasa sangat bermanfaat untuk dilakukan. Dengan kegiatan bengkel ini, siswa lebih termotivasi dan terbantu dalam melakukan kegiatan belajar, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan tugas tuli-menulis.
               Sebagai saran,         diharapkan pada pihak-pihak yang peduli untuk mengadakan pelatihan yang sejenis, seperti yang dilakukan oleh Bengkel Bahasa Yogyakarta.
 
6. Lampiran
               Lampiran berupa (a) cover antologi, (b) daftar isi (judul-judul karya) dalam kedua antologi , dan (c) contoh bulletin TETRA
 
 
Daftar Pustaka
Balai Bahasa Yogyakarta. 2004. “Laporan Pelaksanaan: Pembinaan Penulisan Karya Tulis (Bengkel Bahasa 
Indonesia). Yogyakarta. Bagian Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah DIY.
Balai Bahasa Yogyakarta. 2005. “Laporan Pelaksanaan: Pembinaan Penulisan Karya Tulis (Bengkel Bahasa Indonesia). Yogyakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004: Standar Kompetensi, Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA dan MA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Salam, Aprinus. 2005. “Praktik dan Problem Menulis di Indonesia”. Yogyakarta: Balai Bahasa Yogyakarta
Setiyanto, Edi dan Sri Nardiati. 2004.Anak Yogya Berkata.Yogyakarta: Balai Bahasa Yogyakarta
Nardiati, Sri dan Wiwin Erni Siti Nurlina. 2005. Buah Pena Anak Yogya. Yogyakarta: Balai Bahasa Yogyakarta

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi pb@diknas.go.id

Kembali ke daftar artikel
  • PENGENALAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL
  • Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan
  • MORALITAS BAHASA DALAM AKSIOLOGI KEILMUAN
  • HUBUNGAN KONDISI STRATEGIS MASYARAKAT INDONESIA
  • PENGARUH CARA PANDANGAN MASYARAKAT DUNIA DALAM KONTEKS PENGAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING
  • PENGEMBANGAN MATERI AJAR SASTRA
  • UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR
  • Kondisi Dilematis Kebipaan di Tanah Air: Faktor Risiko dan Protektif
  • WARNA LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA

  • Pengarang Judul
    Subjek