Anda tidak pernah tahu apa yang mampu Anda kerjakan sebelum Anda mencobanya. (Pepatah Tibet)

Judul:HUBUNGAN KONDISI STRATEGIS MASYARAKAT INDONESIA
Pengarang:Widodo Hs (Center for Indonesian Studies, Universitas Negeri Malang)
Subjek:BIPA

 

Perkembangan positif minat dan perhatian pebelajar asing terhadap bahasa Indonesia dan/atau kajian tentang Indonesia dewasa ini telah memberikan dampak dan pengaruh pada keberadaan program pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Sebagai konsekuensinya, program pembelajaran BIPA yang juga merupakan bentuk Indonesian Studies menjadi berperanan semakin penting. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika penyelenggaraaan program pembelajaran BIPA juga mendapatkan tantangan dan tuntutan untuk meningkatkan kinerjanya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Tantangan dan tuntutan ini terutama berhubungan dengan upaya pengembangan dan pemantapan penyelenggaraan program pembelajaran BIPA, termasuk jaringan kelembagaannya yang terdapat di dalam dan di luar negeri. Upaya ini selayaknya dilakukan, mengingat perubahan kondisi yang terkait dengan keberadaan program pembelajaran BIPA senantiasa terjadi secara cepat dan signifikan. Perubahan kondisi yang dimaksud dalam konteks bahasan ini adalah kondisi masyarakat Indonesia.

Upaya pengembangan pembelajaran BIPA memang telah ditempuh oleh pihak-pihak tertentu dengan melalui berbagai macam modus. Salah satu modus yang dimaksud adalah penyelenggaraan forum kegiatan ke-BIPA-an yang berupa : seminar, loka-karya, kongres, dan konferensi. Lingkup kegiatannya mulai dari tingkat lokal, regional, nasional sampai dengan internasional. Dari berbagai forum kegiatan ke-BIPA-an ini telah diperoleh pemahaman dan pengakuan tentang sosok serta keberadaan program pembelajaran BIPA. Fokus Objek yang dibahas pun tidak lagi mempersoalkan tentang ada tidaknya, atau penting tidaknya program pembelajaran BIPA, melainkan mengarah pada bagaimana mewujudkan keberlangsungan program pembelajaran BIPA. Beberapa isu pokok yang dibahas antara lain mengenai : (1) ikhwal instruksional BIPA, (2) kelembagaan program BIPA, (3) kerjasama antar institusi BIPA, (4) terbitan ke-BIPA-an, (5) organisasi profesi BIPA, (6) penelitian/kajian ke-BIPA-an, dan (7) faktor-faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan program pembelajaran BIPA (Widodo:2004). Melalui sejumlah forum kegiatan itu dapat dihimpun dan diidentifikasi berbagai informasi faktual dan aktual tentang kondisi program pembelajaran BIPA, seluk beluknya, serta problematiknya. Di samping itu juga telah dihasilkan beberapa kebijakan dan keputusan tentang penyelenggaraan program pembelajaran BIPA dalam perspektif pengembangannya (Huda : 1999; Sugono : 2004).

Seiring dengan informasi pada berbagai forum tersebut, keberadaan dan kondisi program pembelajaran BIPA disinyalir masih belum terkelola secara memadai. Pada umumnya, pelaksanaan program pembelajaran BIPA masih mengandalkan pada keterbatasan masing-masing lembaga penyelenggara. Bahkan, masih banyak penyelenggaraan program pembelajaran BIPA yang bersifat insidental-musiman, karena pelaksanaan programnya hanya menggantungkan pada ada tidaknya pihak pebelajar. Demikian pula mengenai aspek dan urusan yang menjadi fokus penanganan program BIPA masih banyak ditentukan oleh visi internal masing-masing lembaga penyelenggara. Hal ini disebabkan oleh belum adanya pemahaman dan pola program pembelajaran BIPA yang dapat dimanfaatkan sebagai pijakan dalam pelaksanaan,  sehingga setiap lembaga penyelenggara program pembelajaran BIPA terkesan berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan visinya. Kondisi seperti ini memberikan gambaran, bahwa penyelenggaraan  program pembelajaran BIPA di suatu lembaga, berbeda dengan  yang  dilaksanakan  di lembaga yang lain. Perbedaan ini terjadi karena: (1) perbedaan persepsi terhadap program pembelajaran BIPA, (2) belum adanya acuan dasar program, (3) kondisi dan kapasitas kelembagaan, (4) visi dan misi kelembagaan, dan (5) cara pengelolaan program. Perbedaan pada aspek-aspek ini juga memberikan cerminan adanya ragam dalam penyelenggaraan program pembelajaran BIPA.

Dari paparan tersebut dapatlah dikemukakan,  bahwa pada umumnya keberadaan dan kondisi program pembelajaran BIPA masih belum mapan dan sedang dalam proses mencari bentuk (Kridalaksana : 1996 ;  Alwi : 1999 ; Widodo : 2004). Di samping itu kondisi program juga mengisyaratkan,  tentang  adanya   problematik yang kompleks dalam upaya pengembangan program pembelajaran BIPA. Kekompleksannya tidak hanya menyangkut ikhwal pembelajaran secara internal, tetapi juga terkait dengan komponen non instruksional yang berpengaruh pada pengembangan program pembelajaran BIPA. Salah satu komponen non-instruksional yang dimaksud dalam topik bahasan ini adalah kondisi masyarakat Indonesia.

Penyelenggaraan program pembelajaran BIPA tampaknya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Dalam hal ini masyarakat Indonesia tidak hanya dipahami dan disikapi sebagai representasi masyarakat tutur bahasa Indonesia saja, melainkan dalam peranan yang lain dalam  konteks yang lebih makro. Keterhubungan masyarakat Indonesia dengan program pembelajaran BIPA tidak terjalin sebagaimana relasi antarobjek semata-mata, tetapi memiliki hubungan yang bersifat fungsional-kontributif, Bahkan, dalam situasi dan konteks tertentu hubungan ini menjadi sangat signifikan dan menentukan. Pentinganya hubungan ini juga didasarkan pada asumsi, bahwa bagaimanapun baiknya perencanaan pengelolaan komponen instruksional BIPA, tidak selalu menjamin terjadinya proses belajar  mengajar  dan hasil pembelajaran BIPA secara memadai, jika tidak didukung oleh situasi yang kondusif dan citra yang positif terhadap masyarakat Indonesia. Selanjutnya, tentang hubungan kondisi masyarakat Indonesia dengan pengembangan program pembelajaran BIPA ini dipaparkan secara lebih detail pada subbab berikut.

 

Perspektif   Perkembangan  Program   Pembelajaran  BIPA

            Pengembang  program  Pembelajaran BIPA   memerlukan  gambaran  objektif  tentang  sosok, keberadaan, dan  kondisi  pelaksanaan  selama ini.  Gambaran  ini akan  dapat dimanfaatkan  sebagai  sumber  informasi  aktual  dan faktual  yang  sekaligus  juga  sebagai  pijakan  dalan  penyusunan  strategi  pengembangan  program  BIPA  yang  tepat.  Sebagaimana  diketahui,  bahwa  program  pembelajaran  BIPA  merupakan  sebuah  sistem  yang  terdiri  atas  sejumlah  komponen  pendukung,  yaitu  komponen  instruksional  dan  non-instruksional.    Perwujudan    dan  interaksi-fungsional  antarkomponen ini  akan  menciptakan  proses  belajar-mengajar  dan  hasil  belajar  yang  secara  spesifik  memiliki  entitas   tersendiri,  yaitu  dengan label  BIPA  (bahasa  Indonesia  bagi  penutur  asing).  Istilah  asing  yang  melekat  pada  pembelajaran  BIPA   ternyata  tidak  hanya  memberikan  kesan yang  khusus  secara  politis,  melainkan  juga  berkonsekuensi  pada penanganan  dan  pengelolaan  yang  khusus  pula.   Bahkan,   untuk  kepentingan  pengembangan  program,   penyikapan  dan perlakuan  terhadap  pembelajaran  BIPA  harus  memperhatikan   kondisi     dan  fenomena  di  luar  pembelajaran.  Perlakuan  ini  diperlukan,  mengingat  program  pembelajaran  BIPA  memiliki  dimensi  internasional. 

            Dilihat  dari  latar  belakang  kehadirannya,  program  pembelajaran  BIPA  tentunya  tidak  muncul  begitu  saja.  Keberadaannya  juga  memiliki  sejarah  tersendiri,  sebagaimana  dapat  dipahami  dari  berbagai  informasi  dan  fakta  yang  terkait  dengan;  kapan,  di mana,  dan  bagaimana  terwujudnya  program  pembelajaran  BIPA,  baik  yang  ada  di  dalam  maupun   di  luar  negeri.  Berdasarkan  sumber  yang  terhimpun  dan  terekam  di  Pusat  Bahasa  Jakarta,  sampai  pada  1996.  Program  pembelajaran  BIPA  telah  diselenggarakan  di  35  negara  (Alwi,  1996).   Tentang  kapan  dimulainya  program  pembelajaran  BIPA   di  Indonesia  dan  di  sejumlah  Negara  tersebut,  antara  lembaga  penyelenggara  yang  satu  dengan  yang  lain  tidak  bersamaan.  Ketidaksamaan  ini  atara  lain  disebabkan  oleh  fenomena  awal  yang  terjadi  dan  kondisi  pada  masing-masing  lembaga  penyelanggara  program  BIPA  juga  berbeda.

            Berbagai  informasi  dan  fakta  kesejarahan  tentang  program  pembelajaran  BIPA  pada  dasarnya  telah  memberikan  gambaran  tentang  peta  keberadaannya,  baik  yang  terdapat  di dalam  maupun  di  luar  negeri.              Gambaran  ini  secara  faktual  telah  menunjukkan  kapan  dan  bagaimana  terwujudnya  sebuah  program  pembelajaran  BIPA  di sebuah  lembaga/Negara.  Pada  sisi  lain,  gambaran  ini  juga  telah  menampakkan   adanya  pengakuan  dari  berbagai  pihak  terhadap  keberadaan  program  pembelajaran  BIPA.  Dengan  demikian,  sebenarnya  sosok  pembelajaran  BIPA  telah  memiliki  bukti  yang  dapat  dipertangungjawabkan  secara  faktual-empiris.  Selanjutnya,  bukti  faktual  ini  dapat  dimanfaatkan  sebagai  dasar  tumpuan  bagi  kepentingan  pengembangan  dan  kajian  tentang  program  pembelajaran  BIPA. 

            Dalam  program  pembelajaran  BIPA,  peranan  pebelajar  tampak  sebagai  komponen  yang  sangat  menonjol   (eksklusif).    Komponen  pebelajar  ini  pulalah  yang  membedakan  secara  signifikan  antara  pembelajaran  BIPA  dengan  pembelajaran  yang  lain  (Ellis:1987).  Sosok  pebelajar  BIPA  memiliki  karakteristik  tertentu,  terutama  terdapat  pada:  (1) ciri  personal,  (2)  latar  belakang  asal,  (3)  bidang  keilmuan,  (4)  kualifikasi  kemampuan,  (5)  minat  dan  motivasi  belajar,  (6)  strategi  belajar,  (7)  waktu  belajar,  (8)   status  pebelajar,  dan  (9)   tujuan  serta  kebutuhan   belajar.  Berbagai  hal  yang  menjadi  ciri  penanda  pebelajar   BIPA  ini  akan  berimplikasi  pada  peranan  dan  hubungannya  dengan  komponen  pembelajaran  lain.  Lebih  lanjut,  karakteristik  pebelajar  juga  menjadi  bahan  yang  harus  dipertimbangkan   sebagai  variabel  yang  berpengaruh  dan  menentukan  dalam  pengembangan  program  pembelajaran  BIPA  (Stern:1987).

            Pembelajaran  BIPA  memiliki  target   capaian  tertentu,  yaitu  membentuk  pebelajar  berkemampuan  berbahasa  Indonesia  secara  wajar,  sesuai  dengan  tujuan,  tingkat,  bidang,  dan  kepentingannya.  Dalam    pengertian  yang  lebih  luas,  kewajaran  ini  terkait  dengan  sejumlah  faktor  lain  di  luar  pembelajaran,  namun  masih  berhubungan  secara  signifikan,  termasuk  fenomena  kemasyarakatan  dan  budaya  yang  melekat  dalam  substansi   berbahasa  Indonesia.  Oleh  karena  itu,  di  samping  persoalan  karakteristik  personal  pebelajar,  perihal  kemasyarakatan  dan  budaya  juga  ikut  terlibat  dalam  pelaksanaan  pembelajaran  BIPA.  Terlebih  lagi,  jika  program  pembelajaran  BIPA   diselenggarakan  di  Indonesia,  maka  pertimbangan  dari  segi  sosio-kultural  dan  aspek  pendukung  yang  lain  akan  menjadi  semakin  penting.  Pertimbangan  ini  sekaligus  akan  menjadi  wahana  dan  kebutuhan  dalam  pembelajaran  BIPA,  terutama  untuk  kepentingan  pengakomodasian  dan  pengaktualisasian  kondisi  faktual  tentang  Indonesia  secara  lebih  konkrit  dan  langsung  (Amstrong, 1996;  Surajaya, 1996).

            Selanjutnya,  untuk  memahami  kondisi  objektif  dan  perkembangan  program  pembelajaran  BIPA,  dapat  didasarkan  pada  sumber  dan  fakta  lapangan  tentang  penyelengaraan  pembelajaran  BIPA  yang  telah  dan  sedang  berjalan.  Kondisi  objektif  yang  dimaksud  mencakup  keadaan  internal  dan  eksternal  pelaksanaan  program  pembelajaran  BIPA.  Keadaan  internal  menyangkut  hal-hal  yang  berhubungan  secara  langsung  dengan  pelaksanaan  pembelajaran  BIPA,  antara  lain  tentang:  (1)  perencanaan/silabus,  (2)  pebelajar,  (3)  pengajar/tutor,  (4)  materi  ajar,  (5)  metode/media  pembelajaran,  (6)  kegiatan  pembelajaran,  (7)  evaluasi  program,  dan  (8)  problematik  pembelajaran.  Sedangkan,  kondisi  eksternal  menyangkut  hal-hal  signifikan  yang  secara  tidak  langsung  terlibat  dan  mendukung  keberlangsungan  pembelajaran  BIPA,  antara  lain  tentang:  (1)  kelembagaan,  (2)  kerja  sama,  (3)  forum  pertemuan  ke-BIPA-an,  (4)  terbitan  tentang  BIPA,  dan  (5)  organisasi  profesi  BIPA. 

Secara  umum beberapa  hal  tentang  kondisi  pembelajaran  BIPA  tersebut  dikemukakan  pada  paparan  berikut.

            Dalam  pembelajaran  BIPA  terdapat  sejumlah  aspek  yang  harus  diperhatikan,  antara  lain  tentang  (1)  arah  dan  target  belajar,  (2)  sasaran  belajar,  (3)  tingkat  kompetensi,  (4)  waktu/lama  belajar,  (5)   mekanisme/kegiatan  belajar,  dan  (6)  ketercapaian/keterukuran  hasil  belajar.  Aspek-aspek  ini  merupakan  variabel  yang  perlu  dipertimbangkan  dalam  mewujudkan  rancangan  pembelajaran  BIPA  yang  diharapkan.  Rancangan  pembelajaran  ini  dapat  disusun  dalam  bentuk  silabus  pembelajaran  BIPA.  Dari  silabus  inilah  aspek-aspek   mendasar  dalam  pembelajaran  BIPA  dapat  dideskripsikan  secara  sistematis.  Peranan  dan  fungsi    silabus  BIPA  ini    di  samping  sebagai  penanda   identitas  program  BIPA,  juga  sebagai  acuan  dasar,  pedoman  pelaksanaan,  dan  sekaligus  dapat  digunakan  sebagai  pengontrol  pelaksanaan  program  pembelajaran  BIPA.

            Permasalah  mendasar  yang  terkait  dengan  silabus  BIPA  antara  lain  disebabkan  oleh  belum  adanya  landasan  dan  acuan  umum  dalam  mewujudkan  sebuah  program  pembelajaran  BIPA.  Landasan  dan  acuan  yang  dimaksud  kemungkinan  dapat  disebut  kurikulum  BIPA.  Di  samping  itu,  tampaknya  prinsip  dasar  keilmuan  yang  melandasi  pelaksanaan  program  pembelajaran  BIPA  untuk  berbagai  tujuan  juga  masih  belum  jelas.  Faktor  lain  adalah  persoalan  penanganan   program  BIPA  yang  masih  dirasakan  kurang  memadai,   terutama  dari  segi  sumber  daya  manusianya.   Sebagai  konsekuensinya,  dapatlah  dimengerti  jika  terjadi  perwujudan  silabus  BIPA  yang  tidak  jelas  efektifitasnya;  bukan  hanya  karena  perbedaan  ragam  bentuk,  isi,  dan  tataannya.  Perbedaan  silabus    BIPA  yang  terdapat  di  lembaga  satu  dengan    yang  digunakan  di  lembaga  lain  cukup  signifikan,  terutama  pada  aspek-aspek  yang  mendasar.  Perbedaan  silabus  tersebut  juga  terkesan  hanya  didasarkan  pada  selera,  dan  atas  pertimbangan  akademis  yang  kurang  saksama  (Huda, 1999;  Widodo, 2004).

Tentang  materi/bahan  ajar  BIPA,  masalah  ketersediaan  bahan  ajar  dalam  penyelengaraan  program  pembelajaran  BIPA  merupakan  hal  yang  penting.  Keberadaannya  tidak  hanya  menjadi  kelengkapan  perangkat  program,  tetapi  ikut  menentukan  kualitas  proses  dan  hasil  pembelajaran  BIPA.  Bahan  ajar    BIPA  antara  lain  dapat  berupa  buku  teks,  bahan  suplemen,  koran,  majalah,  borsur,   bentuk  terbitan  ,  dan  perangkat  lain  yang  dapat  dimanfaatkan  sebagai  bahan  ajar.  Kondisi  bahan  ajar Kembali ke daftar artikel

  • PENGENALAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL
  • Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan
  • MORALITAS BAHASA DALAM AKSIOLOGI KEILMUAN
  • MEMBANGKITKAN DAN MEMBINA PROSES KREATIF SISWA
  • PENGARUH CARA PANDANGAN MASYARAKAT DUNIA DALAM KONTEKS PENGAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING
  • PENGEMBANGAN MATERI AJAR SASTRA
  • UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR
  • Kondisi Dilematis Kebipaan di Tanah Air: Faktor Risiko dan Protektif
  • WARNA LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA

  • Pengarang Judul
    Subjek