Takut pada kegagalan adalah sumber kegagalan.

Judul:PENGEMBANGAN MATERI AJAR SASTRA
Pengarang:Kinayati Djojosuroto
Subjek:

PENGEMBANGAN MATERI AJAR SASTRA DALAM PEMBELAJARAN BIPA I. Pendahuluan Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing dapat ditempuh dengan berbagai cara untuk mencapai keberhasilan pengajaran bahasa asing. Perkembangan ilmu pengajaran bahasa, khususnya bahasa asing, tentu harus memperhatikan sarana-sarana penunjangnya, serta perkembangan sosial budaya yang semakin mengglobal saat ini. Pembelajaran BIPA harus memberikan citra positif bangsa Indonesia bagi orang asing agar sukses dalam pergaulan internasional yang mengglobal. BIPA dapat menjadi sarana pembelajaran yang mempesona bagi orang asing yang telah maju dalam dunia Iptek. BIPA dalam pembelajaran dapat merencanakan inovasi-inovasi yang menarik, salah satunya adalah menyusun rancang bangun pengajaran. Selama ini materi BIPA yang ditampilkan sebagian besar berkisar pada pengetahuan bahasa yang mencakup ketatabahasaan secara umum, misalnya yang berkaitan dengan teori pengajaran bahasa asing (Foreign Language Leraning/Foreign Language Teaching). Tentu saja para siswa BIPA dapat memanfaatkan teori-teori belajar bahasa asing tersebut karena konsep-konsepnya bersifat umum (McLauglin, 1987:82). Tujuan siswa asing belajar bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas dua golongan yaitu: 1. tujuan akademik, 2. tujuan kerja. Materi pembelajaran BIPA dalam makalah ini, penulis mencoba membuat rancang bangun pembelajaran BIPA melalui pengembangan materi sastra. Moga-moga materi ini dapat bermanfaat bagi penutur asing untuk tujuan akademik ataupun tujuan kerja. Sastra dalam pembelajaran dapat nmembantu pengajaran kebahasaan karena sastra dapat meningkatkan empat keterampilan dalam berbahasa yaitu, membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Sastra dalam pembelajaran juga dapat memperkenalkan budaya nusantara maupun mancanegara, mempertajam imajinasi, mengembangkan cipta, rasa dan karsa, memperluas wawasan kehidupan, maupun pengetahuan-pengetahuan lain. Karya sastra sebagai salah satu materi ajar kesusastraan dapat disajikan secara terpadu dengan bidang kebahasaan maupun ilmu-ilmu lain seperti pendidikan, psikologi, lingkungan, teknologi, budaya, sejarah. Di bawah ini jelas tergambar keterpaduan/keterkaitan karya sastra dengan ilmu-ilmu lain. 1. Karya Sastra dan Kebahasaan 2. Karya Sastra dan Ilmu-ilmu lain II. Pengembangan Materi Ajar Pengembangan materi ajar ini ditujukan kepada Pemelajar Bahasa Indonesia bagi Orang Asing atau siapa saja yang ingin mengajar atau ingin belajar sastra khususnya puisi dalam pembelajaran BIPA. Makalah ini bertujuan membantu pemelajar memahami Bahasa Indonesia melalui materi sastra sehingga pemelajar dapat menikmati puisi dengan metode yang mudah dalam mengapresiasi puisi yang dibaca. Pemelajar dapat mempelajari makalah ini semdiri atau dengan bantuan pembelajar atau teman. Namun karena studi kesusasteraan terkadang membutuhkan respon pribadi yang subjektif maka tidak semua latihan memiliki satu jawaban yang mutlak. Tentu saja pemelajar perlu mendiskusikan pemikiran-pemikirannya dengan pembelajar atau teman. Pembelajaran ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan sastra dan pendekatan linguistic. Kedua pendekatan ini saling mengisi atau simbiosis mutualisme. Pendekatan linguistic membantu pemelajar menggunakan bahasa dalam kaitan dengan mengapresiasi karya sastra, sedangkan pendekatan sastra membantu pemelajar dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan linguistik. Dalam pembelajaran BIPA ini dapat dilihat bagaimana puisi dijadikan sebagai materi pembelajaran. Puisi yang diambil sebagai contoh pembelajaran dalam makalah ini diadopsi dari puisi-puisi oleh penyair-penyair mancanegara (Inggris). Hal ini bukan berarti penulis tidak menghargai penyair-penyair di tanah air sendiri, tapi penulis hanya ingin mempermudah pembelajaran untuk Orang Asing dalam memperkaya pandangan kehidupan atau budaya masyarakat dunia melalui puisi-puisi terjemahan. Seandainya dalam memaknakan isi puisi mengalami kesulitan, sebaiknya pemelajar menggunakan kamus Indonesia-Inggris, Inggris-Indonesia, ensiklopedia, atau kamus-kamus lain yang relevan. Untuk pembelajar, sebaiknya memperhatikan teknik pembelajaran yang komunikatif, imajinatif dan fleksibel agar memperoleh hasil yang baik. Waktu yang diperlukan harus diperkirakan untuk menyusun strategi yang cocok dalam memperkenalkan puisi agar pemelajar termotivasi belajar. Kiasan Berikut ini akan disajikan beberapa puisi yang memiliki makna kiasan untuk melatih ketajaman dan kepekaan imajinasi. Namun sebelum membaca puisi-puisi tersebut pemelajar diminta untuk mengamati burung camar yang lagi terbang, bermain bersama awan di atas lautan. Kemudian kembali ke sarang, dan bertelur. Setelah selesai mengamati dan berimajinasi, pemelajar mengikuti panduan sebagai berikut : Lihat gambar burung camar dan bandingkan dengan gambar berikutnya. 1. Secara khusus, lihat rincian di bawah ini berdasar pada gambar pertama dan seterusnya - posisi sayap - bentuk awan - warna angkasa - telur - posisi sarang pada batuan di tepi laut a) Gambaran apa yang bisa anda tangkap dari keterangan di atas? b) Apakah anda mendapatkan gambaran imajinasi pada gambar tersebut? 2. Menurut anda, apakah seniman yang membuat lukisan ini memiliki maksud yang sama? Apa maksud mereka? 3. Baca puisi dan artikel ensiklopedia di bawah ini. Informasi apa yang bisa kita peroleh dari: a) Puisi? b) Artikel? a. Puisi Musim Gugur Sebuah sentuhan dingin di malam musim gugur- Ku berjalan ke mancanegara Tampak olehku bulan merah bersandar di atas sebuah pagar Mirip wajah-merah seorang petani Aku tak berhenti untuk berbicara, hanya mengangguk, Sekeliling bintang-bintang dambaan Wajahnya putih seperti anak-anak kota T E Hulme Di Atas Dermaga Di atas dermaga tengah malam Terbelit tali ditiang kapal-tinggi Bulan tergantung. Nun jauh nampaknya Ternyata sebuah balon anak-anak, terlupakan usai bermain T E Hulme London (Mei 1915) Di malam hari,terang bulan, seorang wanita hamil Berjalan hati-hati melintasi surga licin Richard Aldington b. Artikel 4. Apakah ada kesesuaian antara lukisan burung camar dengan tulisan mengenai bulan seperti tersebut di atas? 5. Benda/objek apa yang dimaksud pada alinea berikut ini? Benda ini dapat dipakai saat bekerja atau santai. Coklat pucat, tingginya hampir satu meter, lebarnya setengah meter, kedalamannya setengah meter. Terbuat dari kayu, keras dan licin, bentuknya serupa huruf ‘h’, berdiri empat kaki, tak berisi apa-apa, tetapi orang atau barang sering diletakkan di sana. Tak bersuara bila dipakai, tetapi menimbulkan suara geritan keras bila ditarik di atas lantai. Dihias dua atau tiga cincin kayu diukir di kakinya. Harganya tak terlalu mahal, tetapi kokoh dan buatannya indah. Benda itu dibuat di sebuah kerajaan kira-kira tiga tahun yang lalu. Tampaknya seperti bekas pakai, dan di tempat-tempat tangan dan pakaian menggesek, tampak berkilau. Banyak tanda dan goresan di sebagian besar permukaannya. 6. Sekarang giliran anda. Ambil sebuah benda yang bisa atau sering anda lihat, lalu jelaskan dengan dua cara: a) misalnya artikel pendek pada ensiklopedia dengan menjelaskan ciri-ciri dasar seperti ukuran, bentuk, warna, dsb. b) misalnya salah-satu puisi oleh Hulme dan Aldington. 7. Bandingkan penjelasan yang telah anda tulis pada bagian a) dengan penjelasan yang telah anda tulis pada bagian b). Bagian manakah yang memberi gambaran lebih jelas pada anda? Bagian manakah yang menurut anda lebih menarik? Pada Soal 6 a), anda hanya menggunakan fakta-fakta mengenai benda tersebut untuk menggambarkannya. Pada Soal 6 b), anda menggunakan kiasan. Penggunaan kiasan merupakan salah-satu teknik dasar dalam menulis, terutama puisi. Kita juga sering menggunakannya dalam pidato, dalam frasa “Dia makan seperti seekor babi” atau “Dia seperti angin segar yang bertiup”. Kiasan ini memberi suatu gambaran atau maksud mengenai objek melalui kemiripan-kemiripan sehingga membantu pembaca maupun pendengar membayangkan dalam pikiran mereka. Ada berbagai jenis kiasan, namun di sini kita akan membahas empat jenis saja: Simile Metafor Simbol Kiasan narasi atau deskripsi Simile Definisi: Simile adalah perbandingan eksplisit antara benda A dan benda B, dalam bentuk ‘A menyerupai B’ atau ‘A sama … (kata sifat) dengan B’. Untuk memfungsikan simile, harus ada kemiripan atau titik perbandingan antara A dan B. Contoh: Aku keluar rumah Dan menyaksikan bulan memerah bersandar di pagar halaman Bagai petani yang wajahnya merah padam Benda A adalah bulan. Benda B adalah petani berwajah merah padam. Kemiripan atau titik perbandingannya adalah bentuk merah yang sangat dikenal dan meyakinkan muncul di atas pagar. (CATATAN: A dan B tidak harus terbatas pada ‘benda mati’, tapi dapat pula berupa orang, hewan, kualitas pemikiran, dsb. Kita telah menggunakan kata ‘objek dalam pengertian yang lebih luas dan dalam definisi berikutnya). 8. Sekarang, baca puisi berikut lalu jawab pertanyaan. Setangkai Kembang, untuk tuannya Bangsawan Kerajaan O kembang sutera putih Bening dan beku di bilah rerumputan Kau juga dibaringkan di sisi Ezra Pound a) Objek apakah yang dimaksud dalam puisi di atas? b) Simile apa yang digunakan oleh pujangga sebagai perbandingan? c) Di mana titik perbandingan di antara objek tersebut? Metafora (kata sifat metaphorical; kata keterangan metaphorically) Definisi: Metaphor (metafora) adalah perbandingan implisit antara obyek A dan obyek B, berbentuk ‘A adalah B’. Suatu metafora tidak selamanya berbentuk kata benda. Bisa pula berbentuk kata kerja, kata sifat, atau kata keterangan. Sebagaimana halnya yang berlaku pada simile, harus ada kemiripan atau titik perbandingan antara A dan B. Contoh: Di atas dermaga yang hening di malam hari Tersangkut di antara kabel tiang yang tinggi Nampak bulan menggantung, jauh dari pandangan Ternyata balon anak kecil, yang terlupa saat usai bermain. TE Hulme Objek A adalah bulan. Objek B adalah balon anak kecil. Kemiripan atau titik perbandingannya adalah bentuk bulat dengan tali terjuntai; dan sesuatu yang tadinya dianggap gaib kini kegaibannya telah sirna. Baca puisi ini dan jawab pertanyaannya. Kabut Kabut datang Di kaki kucing-kecil Kucing itu duduk menatap Di balik pelabuhan dan kota Di kaki bagian atas yang diam Lalu ngeloyor pergi Carl Sandburg Objek apakah yang dimaksud dalam puisi di atas? a) Metafora apa yang digunakan oleh pujangga sebagai perbandingan? b) Di mana titik perbandingan di antara obyek tersebut? Simbol (kata sifat simbolik; kata keterangan simbolisasi) Definisi: Simbol adalah penggambaran suatu maksud A oleh obyek B. Maksud A tidak disebutkan seluruhnya, hanya sebagai anjuran. Contoh: Kata Simbol Maksud Hati ♥ Cinta Burung dara Perdamaian Pedang-Tengkorak Perang/bahaya Tulisan penyair: “O kembang sutra putih” Bayangan pembaca: “gadis ayu” 9. Sebutkan apa yang biasanya digambarkan (atau dapat digambarkan) oleh simbol berikut ini: a) singa b) tikus c) ular d) tameng e) palu f) ladang gandum 10. Aktivitas kelompok. Tuliskan atau gambarkan beberapa simbol. Cantumkan beberapa simbol yang belum dikenal baik dan memiliki makna khusus. Perlihatkan kepada anggota kelompok lainnya, lalu suruh mereka menebak arti simbol tersebut. Apa jadinya bila anda menunjukkan simbol pribadi? Apakah simbol tersebut bisa ditebak? Bagaimana caranya? Kiasan Narasi atau Deskripsi Definisi: kiasan narasi atau deskripsi timbul bila objek A menyajikan gambaran dirinya sendiri tanpa komentar, biasanya merupakan bagian dari suatu rangkaian atau cerita; pada hakekatnya merupakan gambaran kata. Pembaca tidak diharapkan membayangkan hal lain di luar gambar atau obyek itu sendiri. (Berbeda dari simile, metafora, dan simbol). Contoh: Citra dari D’ Orleans Para pemuda berkuda di jalanan Di musim baru yang cerah Memacu tanpa alasan Membuat kuda-kuda berloncatan Dengan derap langkah tetap Kaki-kaki kuda mereka bersepatu baja Menghantam jalanan berbatu, tampak percikan api Di musim baru yang cerah Ezra Proud Daftar kata memacu, menekankan tumit sepatu beroda-gerigi mereka ke tubuh kuda; kuda, bahasa kuno; langkah; bersepatu logam; jalanan berbatu. 11. a) Objek apa yang dimaksudkan oleh puisi di atas? b) Menurut anda, apa tujuan penyair dalam menggambarkan pemandangan ini? Bacaan Senja Cerobong berderet-deret Membelah langit jernih Bulan Tertutup sobekan kain tipis diselangkangannya Hadir disela-sela mereka Venus tersipu-malu Dengan hasrat menggebu kutatap ia Lewat atas bak cucian piring di dapur Richard Aldington Daftar kata berderet-deret; sobekan kain; kain kapas tipis-tembus pandang; selangkangan poses duduk atau berdiri seperti aktris model-pasang gaya; penuh hasrat birahi. 12. Seluruh kiasan yang tercantum di bawah ini jenisnya sama: berderet deret membelah langit jernih serpihan kain tipis penutup selangkangan menampakkan diri di antara mereka satu Venus tersipu-malu a) Jenis apakah kiasan di atas? b) Pada masing-masing kasus, apa dibandingkan dengan apa? (Manakah yang objek A? Manakah yang objek B?) c) Pada masing-masing kasus, yang manakah titik perbandingan antara A dan B? 13. Jenis kiasan apakah yang kita temui pada dua baris terakhir dari puisi di atas? 14. Pengaruh apa yang ditimbulkan oleh baris terakhir? Pilih salah-satunya di bawah ini: a) Antiklimaks yang agak kocak b) Perasaan bahagia c) Perasaan terpenjara 15. Baca puisi di bawah ini lalu jawab pertanyaannya. Meleleh Daratan luas-membentang, di sana-sini terhampar salju meleleh Terbayang burung-burung gagak menjerit disarangnya Menatap salju dari puncak pepohonan Elm, lembut seperti bunga rerumputan Apa yang tak dapat kita lihat dari bawah, Musim dingin berlalu Edward Thomas Daftar kata es atau salju yang meleleh; bintik-noda; berpikir; pohon jenis Ulmus. a) Ada satu simile dalam puisi tersebut. Yang manakah itu? b) Apa kira-kira yang akan dilakukan Thomas untuk membantu kita membayangkan simile ini? Apakah puncak pohon elmus atau berlalunya musim dingin? Atau keduanya? c) Manakah titik perbandingan antara keduanya? 16. Baca puisi di bawah ini lalu jawab pertanyaannya. Pohon Jelatang Tinggi Pohon jelatang tinggi terkerudungi, seperti yang telah mereka lakukan Beulang-ulang musim gugur, penggaruk karatan, luku Telah lama usang, dan penggiling batu Hanya bonggol pohon Elm menindih pohon jelatang kini Pojok tanah pertanian, tempat yang pling kusukai Dan bunga-bunga bermekaran Aku senang debu di pohon jelatang, tak pernah lenyap Kecuali untuk membuktikan nyamannya mandi pancuran Edward Thomas Daftar kata musim semi; garu-luku-penggiling, alat pertanian yang ditarik oleh kuda atau traktor; bonggol pohon; berdiri diatas; mekar-indah-segar. a) Jenis kiasan apakah yang terdapat dalam puisi ini? b) Menurut anda, apa tujuan pujangga dalam menggambarkan adegan/pemandangan ini? c) Bandingkan cara yang digunakan oleh Aldington dalam memasukkan pembicara “aku” ke dalam puisi “senja”. Apa persamaan dan perbedaan yang anda lihat dalam pengaruh tokoh “aku” pada kedua puisi tersebut? 17. Baca puisi di bawah ini. Perkenalan I Senja dimusim dingin tenggelam Menghambar aroma steak di lorong-lorong Jam enam Hari-hari penuh asap berakhir padam Kini desir percikan air membalut rongsokan kotor dedaunan layu sekeliling kakimu Koran-koran di tanah kosong Percikan air memukul Pada tirai koyak dan ujung cerobong dan di sudut jalan kereta kuda yang kesepian menunggu embun lalu lampu dinyalakan Daftar kata hembusan angin; kotor; tanah kosong; tirai jendela; ujung cerobong; pada waktu itu 1910-taksi adalah kereta kuda. II Hari pagi mulai sadar-diri Bau anyir beer berasal dari jalanan bertabur serbuk gergaji yang diinjak Dengan seluruh kaki kotor yang menginjak keras Warung kopi jalanan terlalu pagi Dengan sandiwara kehidupan Dimulai lagi oleh waktu Seseorang berpikir semua tangan Mengacungkan bayangan kotor Di beribu kamar sewa-murahan Daftar kata serbuk gergaji dipakai mengepel lantai kedai atau bar, lalu disapu ke trotoar; warung kopi diluar rumah topeng-sandiwara kehidupan; mulai lagi; usang, murah koyak; naung; kamar sewaan murah. III Kau lemparkan selimut dari dipan Kau terlentang, dan menunggu Kau mengantuk, dan mengamati malam mengungkap Ribuan bayangan kumuh di mana jiwamu diangkat Nyalanya berkedap kedip di atas bahu Dan ketika seluruh dunia datang kembali Cahaya merayap di antara daun jendela Kau dengar burung-burung gereja di tepian got Kau dapat melihat panorama jalanan Meskipun jalanan hampir tidak mengerti Duduk di pinggiran dipan, di sana Kau gulungkan kertas dari rambutmu Atau menepuk alas kaki kuning Di telapak tangan kotor Daftar kata melambungkan; setengah tidur-setengah bangun; kotor tak menarik; berkedap-kedip menyelinap; burung gereja; disisi trotoar; dipakai mengikal rambut wanita; telapak kaki; kotor. IV Jiwanya terentang kencang melintas langit Memudar di balik blok perkotaan Atau diinjak-injak kaki tanpa henti Pada jam empat, lima, dan enam Jemari pendek persegi menjejalkan tembakau ke pipa Koran sore dan mata Memberitakan kepastian tertentu Kesadaran jalanan menghitam Tak sabar mengasumsikan dunia Aku tergerak oleh khayalan bengkok Di sekitar bayangan ini dan melekat Gagasan indah tak terbatas Derita tiada akhir Usapkan tanganmu di mulutmu Dunia berputar seperti wanita kuno Memulung kayu bakar di tanah kosong T S Eliot Daftar kata mengisi tembakau ke pipa; fantasi-khayalan; berpegang erat, lengket; ide, gagasan. Respons Awal 18. Perasaan apa yang disajikan oleh puisi kepada anda mengenai kehidupan kota: Sinisme – hiburan – kebingungan – kehampaan – kenikmatan – penasaran – kegembiraan – kesenangan – depresi – kemarahan – kelembutan – iba? 19. a) Pilih frasa yang menunjukkan waktu dalam puisi tersebut. b) Apakah anda melihat adanya struktur kronologis dalam puisi? 20. semua padam jadi abu hari-hari sesak oleh asap rongsokan bengis dedaunan layu . .. a) Dapatkah anda menemukan dalam puisi tersebut beberapa contoh lain mengenai pasangan kata sifat-kata benda? b) Apakah kata sifat tersebut mempunyai arti secara umum? c) Menurut anda, mengapa banyak muncul kata benda jamak? d) Perasaan apa yang dibentuk oleh kiasan ini? 21. Jiwanya terentang kencang melintas langit Memudar di balik blok perkotaan Diinjak-injak kaki tanpa henti Pada jam empat, lima, dan enam Menurut anda, apakah arti penggalan puisi di atas adalah: a) Seorang penderita sakit ingatan menemukan kehidupan kota yang amburadul? b) Orang pada umumnya menemukan kehidupan kota yang amburadul? c) Jiwa manusia yang sakit bagaikan tabir di langit yang menjauhkan manusia dari Tuhannya? d) Ketegangan dan kehinaan hidup di kota sudah sebegitu parah sehingga jiwa manusia berada di ambang kehancuran? e) Setiap orang memiliki impian dan ambisi, namun impian dan ambisi tersebut hancur dan terinjak-injak oleh rutinitas hidup? (Catatan: Jika menurut anda ada lebih dari satu penjelasan yang bisa digunakan, sebutkan penjelasan tersebut dan jadikan sebagai acuan) 22. Kata imajinasi digunakan sebanyak dua kali dalam puisi tersebut (baris 27 dan 49). Baca dengan seksama kalimat yang mengandung kata tersebut, lalu pilih definisi imajinasi yang paling cocok dengan makna yang dikemukakan oleh Eliot: 1. Tiruan atau penggambaran bentuk objek secara eksternal, terutama orang; patung; persamaan; potret atau gambar. 2. Tampilan optik atau bayangan suatu objek, misalnya yang dihasilkan melalui cahaya, baik dipantulkan melalui cermin, dibiaskan melalui lensa, atau jatuh ke suatu bidang setelah melewati lubang kecil. 3. Tampilan, bentuk, persamaan 4. Bayangan, atau tiruan; simbol, tanda atau penggambaran. 5. Penggambaran jiwa dari sesuatu (terutama obyek tampak), gambaran atau kesan batin; ide atau konsepsi; 6. Gambaran yang hidup atau grafik. 7. Simile, metafora, atau gambaran pembicaraan (sumber: Oxford English Dictionary, 1993) 23. Ada tiga karakter individu dalam puisi ini, ditandai oleh kata ganti engkau (perempuan). Menurut anda, siapa-siapa yang menjadi karakter ini? Mengapa mereka tidak memiliki nama? 24. Penjelasan manakah yang anda sukai dari ketiga baris ini? a) Wanita tua mengumpulkan bahan bakar adalah simbol dari jiwa kita; ’dunia’ adalah simbol pengalaman, yang ’berputar’ atau berulang setiap hari; makna yang dikemukakan Eliot adalah jelas: bahwa hidup adalah tugas rutin yang membosankan, tandus, menyiksa, dan tanpa tujuan lain selain tetap bertahan hidup. ‘Tawa’ adalah tawa dalam sedih, bukan tawa dalam riang melainkan penuh gundah-gulana. Ini adalah akhir yang sangat menyedihkan serta puisi yang sangat menyedihkan. b) Baris ini adalah kebingungan: catatan sinis sumbang yang diletakkan di akhir puisi oleh Eliot yang malu, yang ingin menutupi kehalusan dari ‘derita tiada akhir’. Yang diyakini Eliot adalah kehalusan, namun dia takut mengatakannya secara langsung. c) Baris ini adalah bagian dari gerakan dialektika yang tepat: tesanya adalah empat baris puisi roman yang dimulai dengan ‘aku tergerak’, antitesanya adalah tiga baris terakhir dari puisi anti roman, dan sintesanya terpulang ke pembaca untuk menciptakannya sendiri. ‘Andalah yang memilih,’ kata Eliot. d) Kesimpulan Eliot adalah bahwa satu-satunya jawaban atas persoalan derita yang tidak terhindarkan adalah tertawa. Hidup terus berputar ‘dunia berputar’, jadi kenapa harus takut? Kita juga bisa bahagia. e) Singkirkan pendapat absurd yang mengatakan bahwa ada suatu kebaikan yang bisa dicapai di kota ini; tertawalah, akan sia-sia perempuan tua papa yang harus mencari bahan bakar di gedung tua. Di sana tersisa (sebelumnya) dalam pilihan utama kiasan ini ketaksaan yang sama dengan yang disuguhkan oleh seluruh puisi. Perempuan tua yang mencari bahan bakar cenderung menimbulkan rasa iba kita atas ketakberdayaan dan kesendirian ketimbang cacimaki atau cemoohan.’ TS Pearce, TS Eliot (London, 1967) hal. 84. Tambahan 25. Puisi manakah dalam makalah ini yang anda senangi? Puisi manakah yang anda tidak senangi? Mengapa? 26. Tuliskan puisi singkat mengenai kiasan. III. Kesimpulan Dalam pembelajaran BIPA, puisi sebagai karya sastra dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran terpadu. Sastra dalam pembelajaran dapat membantu pengajaran kebahasaan dan juga dapat dipadukan dengan ilmu-ilmu lain. Pembelajaran BIPA dapat menjadikan makalah ini sebagai salah satu alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Budianta, Melani. Membaca Sastra. Jakarta: Indonesiatera. 2002. Djojosuroto, Kinayati. Dasar-Dasar Teori Apresiasi Puisi. Jakarta: Manasco. 2000. Fokema. Teori Sastra Abad Kedua Puluh. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum. 1998. James, Hans Robert. Toward and Aesthetic of Reception. Mineapolis: University of Minnesota Press. 1982. Kartodirdjo, Sutomo. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 1994. McLauglin, Barry, 1989, Theory of Second Language Learning, London: Edward Arnold. Martin, Alex and Hill Robert. Modern Poetry. London: Preutice Hall. 1991. Moody, H, L. B. The Teaching of Literatute. London: Longman Group. 1981. Semi, Atar. Kritik Sastra Indonesia. Padang: Angkasa Raya. 1984. Sudarsono, Juwono. Reformasi Sosial Budaya dalam Era Globalisasi. Jakarta: Wacha Widia. 1998. Suyitno. Sastra, Tata Nilai dan Eksegesis. Jakarta: PT Hanin Data. 1985. Teeuw, A. Khazanah Sastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 1982. Tuloli, Nani. Kajian Sastra. Gorontalo: Nurul Jannah. 2000. Wellek, Rene and Austin Warren. Theory of Literature. England: Pinguin Book Ltd. 1995.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi pb@diknas.go.id

Kembali ke daftar artikel
  • PENGENALAN KEARIFAN BUDAYA LOKAL
  • Bahasa dan Autisme: Kekuatan Bahasa Menembus Kesenyapan
  • MORALITAS BAHASA DALAM AKSIOLOGI KEILMUAN
  • MEMBANGKITKAN DAN MEMBINA PROSES KREATIF SISWA
  • HUBUNGAN KONDISI STRATEGIS MASYARAKAT INDONESIA
  • PENGARUH CARA PANDANGAN MASYARAKAT DUNIA DALAM KONTEKS PENGAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING
  • UPAYA PENINGKATAN MINAT BELAJAR
  • Kondisi Dilematis Kebipaan di Tanah Air: Faktor Risiko dan Protektif
  • WARNA LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA

  • Pengarang Judul
    Subjek