|
I. PENDAHULUAN
WARNA lokal sering lebih dipahami sebagai sesuatu yang statis dan berdimensi keruangan. Dalam operasionalisasinya warna lokal diperlakukan sebagai bagian dari struktur karya sastra, khususnya sebagai salah satu aspek dari seting, atmosfer, dan penggunaan bahasa. Sebagai bagian dari latar fisik dan ruang, warna lokal dikaitkan dengan geografi semisal Sumatra Barat, Riau, Jawa. Lebih spesifik dengan Surakarta, Yogyakarta, atau bahkan fiktif semacam Dukuh Paruk, Wanagalih. Juga dengan atmosfer dan ciri-ciri kultural setempat semisal adat-istiadat, ritual-ritual, sampai dengan kecenderungan interferensi leksikal-idiomatik bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia yang digunakan di dalamnya.
Ketika itu, yang dianggap paling dominan adalah warna lokal Jawa, yang terutama ditandai dengan karya-karya Linus Suryadi, Romo Mangun, Darmanto Jatman, Umar Kayam, Danarto, Ahmad Tohari, dan lain-lain di samping warna lokal outer Indonesia (istilah pinjaman dari Clifford Geertz), entah itu Sumatra (Riau, Minangkabau) atau Kalimantan (Dayak), melalui karya-karya Ibrahim Sattah, Hamid Jabbar, Darman Moenir, Harris Effendi Thahar, juga Korrie Layun Rampan.
Perkembangan karya sastra hari ini masih menyediakan tempat bagi karya yang mengembuskan warna lokal di dalamnya, sebutlah, kumpulan cerpen Raudal Tanjung Banua Parang Tak Berulu yang menawarkan representasi dunia perempuan di tengah masyarakat Minangkabau, atau Rumah Kawin Nur Zen Hae yang berlatar kultur masyarakat Betawi, juga karya-karya Taufik Ikram Jamil yang keras mengenduskan persoalan masyarakat Melayu-Riau, sajak-sajak Tan Lioe Ie yang menghembuskan aroma (lokalitas) kultur masyarakat Tionghoa, atau juga Gus Tf dan sejumlah para sastrawan lainnya. Meskipun, harus diakui, kehadiran warna lokal dalam karya-karya mereka tetaplah terasa tersisihkan di tengah isu sastra yang didominasi oleh perbincangan di seputar tema-tema masyarakat urban-global.
Kalau kita berbicara tentang globalitas, maka yang warna lokal itulah yang menjadi landasannya. Warna lokal inilah yang mendominasi perkembangan sastra dunia hari ini, seperti yang terjadi di Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya sehingga di situ terbaca seluruh keberbagaian kulturnya, demikian juga di Amerika. Memang, fenomena global telah menghadapkan seluruh kebudayaan dalam persoalan yang sama. Namun respons terhadap fenomena global itu dalam setiap lokalitas kultur juga niscaya berbeda. Keindonesiaan di masa depan dibangun dari sana.
II. ESTETIKA LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA
Tahun 1980-an memang pernah ada upaya menggali sedalam mungkin kandungan warna lokal di dalam novel-novel Indonesia. Kandungan ini oleh para pakar sastra dinilai sebagai satu upaya untuk menemukan teori dan kritik sastra khas Indonesia. Kita tak tahu benar, apakah upaya ini kemudian berhasil atau sekadar menjadi upaya "tandingan" bagi kecenderungan kita mengadopsi berbagai teori dari Barat.
Apakah penting sekarang memunculkan kembali persoalan warna lokal di dalam sastra kita? Warna lokal tidak perlu harus diartikan sebagai satu-satunya jalan untuk merumuskan sastra (modern) Indonesia. Ia hanya semacam pintu untuk membuka khazanah kesusastraan di Tanah Air, yang amat kaya dengan muatan-muatan yang terkadang tidak kita temukan di dalam rumusan-rumusan model Barat. Baguslah kalau fenomena ini bisa merangsang para peneliti dan penggiat sastra berkutat lagi mencari teori yang tepat, syukur bisa ditemukan teori sastra yang khas Indonesia.
Hampir setahun lalu, ada Kongres Cerpen IV di Pekanbaru yang mengusung tema di seputar estetika lokal dalam sastra Indonesia. Melepaskan diri dari kongres yang hanya berkonsentrasi pada genre cerpen, tema ini agaknya menarik bukan pertama-tama karena sayup-sayup ia menjadi semacam ikhtiar untuk kembali menegaskan apa yang telah menjadi jejak sebelumnya dalam memerkarakan hubungan antara karya sastra, sastrawan, dan konteks lokalnya, yang terutama muncul sejak periode tahun 1950-an yang dihuni oleh para sastrawan yang oleh Goenawan Mohamad disebut sebagai generasi pos-Chairil. Namun tema itu juga menarik diapungkan sebagai sebuah isu di tengah perkembangan yang muncul dalam konteks global dan fenomena budaya urban yang membayanginya, yang di dalamnya sastra Indonesia menunjukkan perkembangannya.
Sejenis perkembangan yang ditandai oleh kegairahan dan kesemarakan penerbitan karya sastra, terutama prosa, serta munculnya para pengarang generasi terbaru, yang diam-diam sekaligus dicurigai tidak lagi memberi tempat pada keberbagaian itu sendiri. Keberbagaian dimaksud menekan ke dalam asumsi bahwa karya sastra yang bermunculan hari ini tidak lagi memberi tempat pada dimensi-dimensi lokalitas, yang tak hanya merepresentasikan berbagai latar dan cara pengucapan, melainkan juga melukiskan berbagai konflik dan cara pandang. Di hadapan konteks global dan fenomena urban, karya sastra hari ini dipandang melulu bergerak dalam ruang yang sama: permasalahan yang sama, cara pengucapan yang sama, dan cara pandang yang sama pula.
Dalam melukiskan persoalan perempuan dan seks, misalnya, karya cerpenis yang tinggal di Pontianak atau penyair yang tinggal di Kendari, tak ada bedanya dengan karya mereka yang tinggal di Jakarta. Mungkin saja mereka keduanya menemukan permasalahan yang sama seperti di Jakarta atau kota besar lainnya, namun konteks lokal yang berbeda meniscayakan berbagai perbedaan. Tak hanya setting dan cara pengucapan, tapi sekali lagi, juga cara pandang di dalamnya yang sayup-sayup membayangkan konteks kultur dan etos tradisi yang mengikutinya dengan berbagai respons dan perubahan yang terjadi di dalamnya.
Meski asumsi dan kecurigaan itu mungkin bisa dipandang berlebihan, sebab fenomena global dengan kekuatan teknologi informasi yang diusungnya telah menggeser cara pandang orang terhadap realitas di sini dan di sana, namun asumsi dan kecurigaan itu juga memiliki alasannya. Terlebih lagi di hadapan karya sastra yang selalu diandaikan memiliki kesanggupan untuk menjadi catatan batin sebuah masyarakat di suatu waktu dan tempat. Andaian inilah yang membayangkan bahwa lewat karya sastra, orang akan bertemu dengan keberbagaian dalam cara pandang suatu masyarakat dalam (frame) lokalitasnya di hadapan permasalahan yang sama. Termasuk keberbagaian cara pandang terhadap konteks global dan bagaimana perubahan itu direspons.
Dalam konteks perkembangannya, di tengah maraknya berbagai penerbitan karya sastra dan kemunculan para generasi terbaru, sampai hari ini masih sulit kita temukan cerpen, novel ataupun puisi yang membuat kita tahu apa yang dirasakan oleh masyarakat Papua, Aceh, Lombok, Dayak, Mentawai, atau Suku Tulangbawang di Lampung atau orang-orang Suku Bajo di Sulawesi Tenggara. Kita tidak tahu bagaimana cara berpikir dan sikap pandangan mereka terhadap apa yang seakan kerap menjadi sesuatu penting buat kita, dari mulai seks, globalisasi, hingga sesuatu yang bernama Indonesia, misalnya.
Selalu yang kita temukan adalah karya-karya yang asyik dan iseng sendiri dengan dunianya, dengan narasi, konflik, dan karakter pengucapan yang memutus hubungannya dengan konteks masyarakatnya. Ia membangun dunia narasinya sendiri dalam cara pandang konteks masyarakat urban-global seraya bersandar pada imajinasi pengungkapan yang melulu dipungut dari referensi tekstual.
Meskipun perkembangan karya sastra hari ini masih menyediakan tempat bagi karya yang mengembuskan warna lokal di dalamnya, sebutlah, seperti telah disinggung di pendahuluan, kumpulan cerpen Raudal Tanjung Banua Parang Tak Berulu yang menawarkan representasi dunia perempuan di tengah masyarakat Minangkabau, atau Rumah Kawin Nur Zen Hae yang berlatar kultur masyarakat Betawi, juga karya-karya Taufik Ikram Jamil yang keras mengenduskan persoalan masyarakat Melayu-Riau, sajak-sajak Tan Lio Ie yang menghembuskan aroma (lokalitas) kultur masyarakat Tionghoa, atau juga Gus Tf dan sejumlah para sastrawan lainnya; namun kehadiran warna lokal dalam karya-karya mereka tetaplah terasa tersisihkan di tengah isu sastra yang didominasi oleh perbincangan di seputar tema-tema masyarakat urban-global.
Di lain sisi, lokalitas dalam karya sastra hari ini juga dipandang memiliki persoalannya sendiri. Sejenis persoalan yang makin menegaskan kenyataan bahwa akhirnya banyak orang tak lagi menemukan karya para sastrawan yang dengan intens mengolah dan berangkat dari ketakjubannya pada dunia serta warna lokal seperti misalnya yang terjadi pada periode tahun-tahun sebelumnya, dari mulai sejak generasi Ajip Rosidi, Ramadhan KH, AA Navis, Ahmad Tohari, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, Darman Moenir, atau Linus Suryadi AG.
Karena itulah, membaca karya sastra hari ini untuk mencari dan menemukan warna lokal di dalamnya, akan sangat terasa betapa seluruhnya menunjukkan gejala kemunduran dibanding karya para sastrawan pendahulunya. Karena itulah, dalam pandangan kritikus seni dan esais seperti Adi Wicaksono, jika dalam karya sastrawan terdahulu lokalitas tak hanya sekadar menjadi warna, melainkan juga menyediakan tempat untuk merasakan bagaimana lokalitas itu berhubungan dengan konsep berpikir masyarakatnya; maka dalam karya-karya terkini lokalitas terkesan hanya sekadar menjadi latar penceritaan, bahkan lebih jauh hanya menjadi jargon dan setempel.
Lokalitas dalam karya sastra Indonesia hari ini berbeda dengan apa yang terjadi pada dua puluh tahun yang lalu. Lewat karya-karya Romo Mangun Wijaya atau Ahmad Tohari kita bisa merasakan bagaimana lokalitas di situ tak hanya sekadar menjadi latar belakang kultur, tapi juga menawarkan sebuah paradigma berpikir. Di dalam karya mereka kita bisa tahu bagaimana orang menyelesaikan persoalan dan konflik secara lokal. Tapi yang terjadi hari ini bagaimana warna lokalitas itu diumbar tapi tak pernah sampai menawarkan sebuah paradigma, kecuali hanya sekadar menjadi stempel dan jargon.
Adi Wicaksono memang tak menunjuk pada karya mana ia menyimpulkan bahwa di situ lokalitas hanya menjadi jargon dan setempel. Demikian pula ketika ia menyebut bahwa kecenderungan itu banyak muncul pada sastrawan-sastrawan muda. Sebab, satu hal yang hendak ditegaskannya adalah betapa dalam konteks hari ini lokalitas dalam karya sastra bukanlah sesuatu yang mudah diidentifikasi. Ia belum menjadi sesuatu yang signifikan, yang berbeda dari konteks sebelumnya. Terlebih lagi menurutnya tak sedikit para pengarang muda yang mudah tergoda oleh persoalan-persoalan global tidak menawarkan paradigma berpikir yang khas lokal.
Padahal jika kita berbicara global, maka yang warna lokal itulah yang menjadi landasannya. Warna lokal inilah yang mendominasi perkembangan sastra dunia hari ini, seperti yang terjadi di Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya sehingga di situ terbaca seluruh keberbagaian kulturnya, demikian juga di Amerika. Ia juga tak menampik kenyataan bahwa fenomena global telah menghadapkan seluruh kebudayaan dalam persoalan yang sama. Namun respons terhadap fenomena global itu dalam setiap lokalitas kultur juga niscaya berbeda.
Ketergodaan dan sugesti pada yang global seraya tak teridentifikasinya paradigma berpikir lokal di dalamnya, akhirnya memang telah membuat perkembangan karya sastra Indonesia hari ini hidup dalam kondisi ''rabun dekat''. Di tengah Kegairahan dan kemudahan mengakses berbagai literatur karya sastra asing dengan berbagai data referensinya, juga kemudahan dalam menerbitkan karya sastra, membuat tak sedikit para sastrawan lebih fasih mengumbar pengetahuan referensinya ketimbang memahami konteks lokal masyarakatnya.
''Rabun dekat'' agaknya adalah situasi yang harus dihadapi oleh generasi terkini, sebab mereka hidup dalam konteks yang berbeda dibanding generasi sastrawan pendahulunya, yang menurut Ajip Rosidi ketika itu para sastrawan masih hidup dalam bahasa ibunya yang membuatnya leluasa membangun cara pandang lokalitasnya meski ia menulis dalam bahasa Indonesia. Masing-masing sastrawan ketika itu membawa pandangan dan cara berpikir dari rumah lokalnya. Ini dimungkinkan karena meski mereka menulis dalam bahasa Indonesia tapi di rumahnya mereka masih menggunakan bahasa daerahnya. Karena itu jika membaca karya-karya Utuy, Trisno Juwono, atau Pram, sebenarnya pola pikir mereka masih pola pikir seperti kultur bahasa ibunya. Ia juga menegaskan bahwa warna lokal tak bisa dipisahkan dari estetika dan gagasan kesadaran di dalamnya.
Meminjam ungkapan Ajip, rumah lokal para sastrawan inilah yang agaknya kini telah berubah. Rumah lokal yang kini telah terurai, demikian pula dengan bahasa yang menjadi mulut dari rumah lokal itu, sehingga orang bisa dengan mudah seolah-olah menemukan rumah lokalnya di mana-mana. Inilah yang membuat banyak para sastrawan mengira bahwa lokalitas itu adalah sejumlah data dan pengetahuan yang misalnya bisa diakses lewat internet. Lokalitas inilah yang dijadikan warna dalam karyanya seraya mengabaikan bahwa rumah lokal juga berarti adalah pengertian tentang cara berpikir.
Sastra Indonesia dan warna lokal seharusnya memang menjanjikan keberbagaian, tempat di mana kita bisa merasakan denyut dan getar berbagai komunitas lokal di dalamnya. Tak hanya lokal dalam pengertian kultur-etnis, namun juga lokal dalam konteks sosiologisnya. Rasanya kita ingin membaca karya-karya yang bertutur tentang dunia para supir truk, para buruh perempuan, pemadam kebakaran, sampai polwan atau tentara. Tetapi tentu bukan hanya untuk sebagai setempel atau jargon, yang hanya membenarkan pandangan Goenawan Mohamad bahwa kesusastraan Indonesia adalah sebuah kebimbangan.
III. KAMPUNG HALAMAN DAN GERAKAN KEMBALI KE AKAR
Disadari atau tidak, kampung halaman telah menjadi ikon tersendiri dalam jagad sastra Indonesia. Tidak hanya sebatas ungkapan ekspresi sebuah karya, namun masuk lebih jauh lagi ke dalam wacana dan gerakan sastra kita, dari dulu hingga sekarang. Dulu misalnya, ada gerakan sastra kembali ke akar yang mengidealkan keragaman karya sastra lewat muatan atau warna lokal. Akar dan lokal, secara simbolik dan geografik merujuk kampung halaman.
Ada pula diskusi panjang menyangkut sastra di antara bahasa nasional dan bahasa ibu, yang menghasilkan tesis ''penyair sebagai Si Malin Kundang'' (Goenawan Mohamad) dan ''penyair sebagai manusia perbatasan'' (Subagio Sastrowardojo). Lalu, ada Gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP) yang memaknai ke-pedalaman-nya dari konteks kampung-halaman (daerah). Ada pula sastra eksil yang menjembatani ''tanah buangan'' dan ''tanah asal''.
Yang menarik, dari sekian banyak diskusi, gerakan dan fenomena yang berbau kampung-halaman dalam sastra Indonesia, ternyata belum ada rumusan yang memuaskan tentang itu. Goenawan Mohamad misalnya, memang mencoba merumuskan kampung-halaman dari suatu asumsi lingual , yakni perihal penyair dengan bahasa ibu non-Melayu (khususnya Jawa) yang mesti ''berkelahi'' terus-menerus dengan bahasa Indonesia.
Asumsi ini ternyata gagal merumuskan duduk soal, terutama terlihat dekade terakhir ini, bagaimana penyair yang bahasa ibunya dekat dengan rumpun Melayu pun, mengalami kegagapan artikulasi tersendiri dalam mencapai orgasme estetik dan puitik. Ini tentu wajar, sama wajarnya dengan kegagapan artikulasi penyair yang berbahasa ibu lainnya. Karena yang disebut lingua-franca itu sesungguhnya tidaklah sepenuhnya merujuk sebagai ''murni'' bahasa Melayu. Ingatlah pengertian lingua-franca yang berarti bahasa ucap (tak) resmi di sepanjang Nusantara; yang saling lepas dan menyerap, saling lepas dan tangkap, dengan bahasa lainnya di sepanjang kepulauan lalu-lintas dunia ini.
Maka, yang paling konkret untuk melihat kenyataan ini adalah dari karya-karya sastra kita sendiri, sebagaimana Subagio Sastrowardoyo melakukannya dalam tesis ''penyair Indonesia sebagai manusia perbatasan'' yang relatif memuaskan. Upaya semacam ini jauh dari kepentingan ''politis'' dan ''ideologis'' dalam pengertian praktis, sebab tidak mempersoalkan bahasa dan ekspresi puitik dalam hubungan ''bangsa dan negara'' akan tetapi sebagai teks kreatif seorang kreator.
Banyak kumpulan puisi yang merepresentasikan kampung-halaman dari kefasihannya bertutur-kata, membangun rima yang melodius, dan dengan itu warna lokal -- tanah asal penyair -- terhadirkan. Selain itu, berbagai kosa-kata bahasa daerah yang dihimpun dan dihidupkan kembali, menjadi representasi kampung halaman.
Sejumlah kosa-kata daerah masuk cukup leluasa ke dalam puisi-puisi mereka, sebagaimana lazimnya sajak-sajak yang bernafaskan kampung-halaman. Tentu saja dengan catatan, kosa-kota itu tidak mengganggu pemaknaan, sehingga mampu menyatu dengan keseluruhan sajak. Upaya para penyair Indonesia menghadirkan (atau merumuskan) kampung-halaman secara estetik dalam teks sajaknya, seperti membuat rujukan tempat, memasukkan kosa-kata bahasa ibu atau membangun irama, sebenarnya baru dapat disebut sebagai upaya ''taktis''. Untuk masuk ke upaya ''strategis'', mereka harus melakukan lompatan yang lebih jauh lagi seperti menggandakan makna, membangun daya ungkap baru, di luar kemapanan berbahasa. Kita tahu, keterampilan berbahasa di kalangan penyair terkini sebenarnya tidak perlu dicemaskan benar, akan tetapi sejauh mana hal tersebut tidak bersifat perayaan, inilah yang agak mencemaskan. Kemampuan berbahasa lebih menekankan kelincahan, bukan pada lain tingkatan semisal eksplorasi dan
pemaknaan -- itulah yang terjadi. Padahal, kita pun tahu, kemampuan berbahasa hanyalah syarat teknis kepenyairan.
Lihatlah, misalnya, puisi-puisi kampung halaman D. Zawawi Imron, terutama pada sajak-sajak awalnya yang begitu intens menggumuli alam Madura. Realitas alam Madura diolah secara simbolik, sehingga maknanya lebih luas dan universal. Rantau dan pelayaran misalnya, tidak hanya bermakna harfiah, namun memiliki dimensi spiritual. Begitu pula daun siwalan, clurit, sapi karapan, pondok garam dan perahu cadik membentuk dimensi makna yang lebih luas, berdimensi dan kaya raya. Bahasa ungkap yang sederhana simetris dengan kesederhanaan kampung halamannya. Dan yang paling menarik adalah terciptanya sajak-sajak yang surealis di tengah realitas alam sehari-hari, sebagai antipoda terhadap kemapanan yang ada.
IV. PENUTUP
Upaya para sastrawan Indonesia untuk menggali potensi lokal, baik bahasa, mitos, maupun sejarah lokal sebagai sumber penciptaan karya sastra di tengah-tengah arus globalisasi nilai-nilai yang kian "menggila" dewasa ini dengan ujung tombak kapitalisme, memang menggembirakan. Menggali potensi lokal, mitos, dan sejarah lokal menjadi penting dilakukan saat ini oleh para sastrawan, karena secara faktual daerah-daerah di Indonesia memiliki kekayaan tersebut.
Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu saja diperlukan upaya-upaya konkret dalam pelbagai bentuk yang mengarah pada lahirnya karya-karya sastra yang mampu mengeksplorasi lokalitas secara cerdas. Bukan tanpa alasan jika hasil Rapat Paripurna Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) di Banten dua tahun lalu merekomendasikan pentingnya mencerdasi kembali potensi lokal, mitos, dan sejarah lokal dalam berkarya sastra.
Apalagi globalisasi tidak justru membuat bangsa Indonesia masuk ke dalam peradaban tinggi, cerdas dan berakhlak mulia, akan tetapi sebaliknya justru menghancurkan nilai-nilai tradisi yang berakibat pada runtuhnya nilai-nilai spritual yang menjadi ciri khas bangsa-bangsa Timur. Hancurnya nilai-nilai tradisi itu antara lain diakibatkan oleh arus globalisasi; yang salah satu ujung tombaknya digerakkan oleh kapitalisme yang hanya mendasar pada satu hal, yakni senjata, konsumerisme, dan gairah syahwat. Dalam hal inilah globalisisasi sesungguhnya tidaklah menawarkan kebudayaan, melainkan hanya sebuah peradaban.
Dalam kaitan inilah, menggali kembali nilai-nilai tradisi dalam karya sastra, mempunyai peran yang cukup penting dalam upaya menegaskan kembali identitas setiap budaya lokal yang ada, seperti yang dilakukan oleh bangsa Cina dan India. Menggali nilai-nilai tradisi dan menghormati nilai tradisi menjadi penting kita lakukan dewasa ini, karena ia merupakan titik pijak bagi peradaban kita dalam melawan arus globalisasi nilai-nilai yang tampaknya kian tak terbendung. Tradisi sebagai sesuatu yang tak bisa dielakkan juga akan menentukan cara dan sikap pandang seseorang atas suatu keadaan.
DAFTAR PUSTAKA
Banua, Raudal Tanjung. 2005. Parang Tak Berulu Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Hae, Nur Zen. 2004. Rumah Kawin. Depok: Kata Kita
Imron, D. Zawawi. 1986. Celurit Emas. Surabaya: Bintang
Jamil, Taufik Ikram. 1997. Sandiwara Hang Tuah. Jakarta: Grasindo
Kayam, Umar. 1993. Para Priyayi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
Kuntowijoyo. 1976. Isyarat. Jakarta: Pustaka Jaya
Mangunwijaya, YB. 1981. Burung-burung Manyar. Jakarta: Djambatan
Mohamad, Goenawan. 1971. Potret Seorang Penyair Muda Sebagai si Malin
Kundang. Jakarta: Pustaka Jaya
Rampan, Korrie Layun. 1978. Upacara. Jakarta: Pustaka Jaya
Suryadi, Linus. 1981. Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita
Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Tohari, Ahmad. 1981. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
|